Tema ‘mendidik anak dalam kandungan’ sangatlah urgen untuk diperbincangkan. Walaupun selama ini, kajian sistematis tentang tema ini, berikut panduan teknis-praktisnya dalam perspektif pendidikan Islam, masih belum banyak ditemukan. Akibatnya, pendidikan anak dalam kandungan ibu, harus kita akui, belum secara maksimal dilakukan. Padahal, itu termasuk mata rantai strategi pendidikan yang harus dilakukan untuk merealisasikan anak yang shalih dan cerdas dalam kehidupan.
Tulisan ini mungkin hanyalah merupakan ‘hidangan pembuka’ saja. Setelah itu, perlu digali kembali secara mendalam konsep Islam perihal pendidikan anak dalam kandungan, berdasarkan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Dan, itu adalah tugas para ulama kita dan para cendekiawan muslim, untuk melakukan kajian dan riset mendalam tentang tema ini, sehingga kelak buah ilmunya bisa dinikmati oleh publik Islam secara luas.
Cerdas-Shalih Sejak dalam Rahim
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat dalam bidang perkembangan pralahir menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan, setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik, sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan.
Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, tulisan F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., ditegaskan bahwa beberapa kebiasaan baik yang dibentuk secara konsisten oleh ibu-ibu hamil pada dirinya dan bayinya selama kehamilan dapat mengurangi pelbagai kesulitan yang mungkin timbul ketika sang anak sudah lahir ke dunia. Secara teratur mendengar irama musik tertentu (bisa dialihkan dengan mendengar suara murattal Al-Quran, misalnya), atau bercerita dan berdendang untuk si jabang bayi dalam kandungannya, atau melakukan relaksasi, akan memungkinkan ibu-ibu hamil bisa menjalin komunikasi dan membina hubungan positif dengan bayinya.
Menurut F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., The American Association of The Advancement of Science pada tahun 1996 telah merangkum hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir atau bayi, antara lain sebagai berikut : Pertama, Dr. Craig dari University of Alabama menegaskan bahwa program-program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak-anak tersebut mencapai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi. Kedua, Dr. Marion Cleves Diamond dari University of California, Berkeley, AS melakukan eksperimen bertahun-tahun dan mendapatkan hasil yang sama berulang-ulang bahwa tikus yang diberi stimulasi tidak hanya mengembangkan pencabangan sel otak lebih banyak dan daerah kortikal otak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih trampil bersosialisasi dengan tikus-tikus lain. Ketiga, The Prenatal Enrichment Unit di Hua Chiew General Hospital, di Bangkok Thailand yang dipimpin oleh Dr. C. Panthura Amphorn, telah melakukan penelitian yang sama terhadap bayi pralahir, dan hasilnya disimpulkan bahwa bayi yang diberi stimulasi pralahir akan cepat mahir bicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orang tuanya, lebih tanggap terhadap suara irama, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.
Demikian juga riset yang dilakukan oleh Prof. Suzuki dari Jepang, sebagaimana pernah dimuat dalam harian The Japan Times Weekly Education, bahwa stimulus yang diberikan terhadap janin sangat terkait dengan tingkat intelegensi anak. Jadi, sejak masih dalam kandungan, anak sebenarnya telah siap merespon stimulasi-stimulasi edukatif yang diberikan kedua orang tuanya, terutama oleh ibunya.
Stimulasi Ilmu, Doa dan Al-Quran
Setelah menyimak urgensi stimulasi bagi janin dalam rahim, ada beberapa metode yang bisa ditempuh oleh orang tua, khususnya ibu, untuk memberikan stimulasi pendidikan yang positif bagi anaknya yang masih dalam kandungan.
Pertama, metode doa. Yakni ibu atau juga ayah melantunkan doa dengan suara jelas bagi keshalihan anaknya yang berada dalam kandungan. Hal ini akan membawa efek positif bagi si janin. Para nabi dan orang-orang shalih terdahulu banyak melakukan metode doa ini, seperti Nabi Ibrahim (Ash-Shaffat : 100; Al-Furqan : 74), keluarga Imran (Ali Imran : 38), Nabi Zakariya (Al-Anbiya’ : 89; Maryam : 5), Nabi Nuh (Nuh : 28), dan lain-lain.
Kedua, metode ibadah dan dzikir. Keaktifan ibu melakukan berbagai amal ibadah maupun membaca dzikir-dzikir akan berpengaruh positif kepada anak dalam kandungan. Lebih baik lagi, jika ibu turut menyertakan anaknya dalam melakukan ibadah, atau saat akan berdzikir. Misalnya, ketika hendak melakukan shalat Maghrib, ibu berkata, “Hai Nak, mari kita shalat!” Sembari ibu menepuk atau mengusap-usap perutnya. Atau ibu mengatakan, “Mari Nak, kita berdzikir… Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim..!”
Ketiga, metode membaca atau menghafal. Yakni ibu membacakan buku, atau membaca Al-Quran dengan suara keras kepada anak. Demikian juga dengan menghafal Al-Quran, ibu menepuk atau mengusap-usap perutnya, sembari mengatakan, “Mari Nak, kita hafalkan surat An-Naba’! ‘Amma yatasa’alun…”
Keempat, metode dialog. Yakni metode interaktif antara anak dalam kandungan dan orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah, saudara-saudara bayi, atau keluarga lainnya. Dengan metode ini, diharapkan seluruh unsur anggota keluarga dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi, yakni menjalin dan mengajak berkomunikasi secara dialogis dengan anak dalam kandungannya.
Mengajak dialog janin dalam perut, menyambutnya dengan sapaan ramah tatkala si anak menendang-nendang perut ibunya atau bergerak-gerak, sembari ibu menepuk atau mengusap-usap lembut pada bagian perut yang bergerak-gerak itu, dan mengatakan, “Ada apa Nak? Ayo bermain-main dengan ibu…!” Hal ini sangat positif sekali untuk merangsang kemampuan komunikasi dan emosional anak.
Wahai para ibu…! Jadilah Anda guru bagi anak-anak Anda, sejak mereka masih dalam rahim Anda. Sehingga, potensi keshalihan dan kecerdasan anak Anda akan mulai bersemi sejak ia belum terlahir di dunia ini. Wallahul musta’an. (Muhammad Albani)


Saudaraku muslimah! Alhamdulillah, tahun ini, kita dan Ramadhan kembali berjumpa. Perjumpaan yang membuncahkan rasa bahagia. Bahagia dengan keberkahan yang terpendam dalam Ramadhan. Bahagia dengan bermacam pahala dan ampunan Allah Ta’ala yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang mampu menjadikan puasa Ramadhan sebagai pembersih dosa, energi pembangkit pahala, dan perisai dari jilatan api neraka. Rasulullah n bersabda :