Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Tema ‘mendidik anak dalam kandungan’ sangatlah urgen untuk diperbincangkan. Walaupun selama ini, kajian sistematis tentang tema ini, berikut panduan teknis-praktisnya dalam perspektif pendidikan Islam, masih belum banyak ditemukan. Akibatnya, pendidikan anak dalam kandungan ibu, harus kita akui, belum secara maksimal dilakukan. Padahal, itu termasuk mata rantai strategi pendidikan yang harus dilakukan untuk merealisasikan anak yang shalih dan cerdas dalam kehidupan.
Tulisan ini mungkin hanyalah merupakan ‘hidangan pembuka’ saja. Setelah itu, perlu digali kembali secara mendalam konsep Islam perihal pendidikan anak dalam kandungan, berdasarkan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Dan, itu adalah tugas para ulama kita dan para cendekiawan muslim, untuk melakukan kajian dan riset mendalam tentang tema ini, sehingga kelak buah ilmunya bisa dinikmati oleh publik Islam secara luas.

Cerdas-Shalih Sejak dalam Rahim
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat dalam bidang perkembangan pralahir menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan, setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik, sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan.
Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, tulisan F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., ditegaskan bahwa beberapa kebiasaan baik yang dibentuk secara konsisten oleh ibu-ibu hamil pada dirinya dan bayinya selama kehamilan dapat mengurangi pelbagai kesulitan yang mungkin timbul ketika sang anak sudah lahir ke dunia. Secara teratur mendengar irama musik tertentu (bisa dialihkan dengan mendengar suara murattal Al-Quran, misalnya), atau bercerita dan berdendang untuk si jabang bayi dalam kandungannya, atau melakukan relaksasi, akan memungkinkan ibu-ibu hamil bisa menjalin komunikasi dan membina hubungan positif dengan bayinya.
Menurut F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., The American Association of The Advancement of Science pada tahun 1996 telah merangkum hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir atau bayi, antara lain sebagai berikut : Pertama, Dr. Craig dari University of Alabama menegaskan bahwa program-program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak-anak tersebut mencapai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi. Kedua, Dr. Marion Cleves Diamond dari University of California, Berkeley, AS melakukan eksperimen bertahun-tahun dan mendapatkan hasil yang sama berulang-ulang bahwa tikus yang diberi stimulasi tidak hanya mengembangkan pencabangan sel otak lebih banyak dan daerah kortikal otak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih trampil bersosialisasi dengan tikus-tikus lain. Ketiga, The Prenatal Enrichment Unit di Hua Chiew General Hospital, di Bangkok Thailand yang dipimpin oleh Dr. C. Panthura Amphorn, telah melakukan penelitian yang sama terhadap bayi pralahir, dan hasilnya disimpulkan bahwa bayi yang diberi stimulasi pralahir akan cepat mahir bicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orang tuanya, lebih tanggap terhadap suara irama, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.
Demikian juga riset yang dilakukan oleh Prof. Suzuki dari Jepang, sebagaimana pernah dimuat dalam harian The Japan Times Weekly Education, bahwa stimulus yang diberikan terhadap janin sangat terkait dengan tingkat intelegensi anak. Jadi, sejak masih dalam kandungan, anak sebenarnya telah siap merespon stimulasi-stimulasi edukatif yang diberikan kedua orang tuanya, terutama oleh ibunya.

Stimulasi Ilmu, Doa dan Al-Quran
Setelah menyimak urgensi stimulasi bagi janin dalam rahim, ada beberapa metode yang bisa ditempuh oleh orang tua, khususnya ibu, untuk memberikan stimulasi pendidikan yang positif bagi anaknya yang masih dalam kandungan.
Pertama, metode doa. Yakni ibu atau juga ayah melantunkan doa dengan suara jelas bagi keshalihan anaknya yang berada dalam kandungan. Hal ini akan membawa efek positif bagi si janin. Para nabi dan orang-orang shalih terdahulu banyak melakukan metode doa ini, seperti Nabi Ibrahim (Ash-Shaffat : 100; Al-Furqan : 74), keluarga Imran (Ali Imran : 38), Nabi Zakariya (Al-Anbiya’ : 89; Maryam : 5), Nabi Nuh (Nuh : 28), dan lain-lain.
Kedua, metode ibadah dan dzikir. Keaktifan ibu melakukan berbagai amal ibadah maupun membaca dzikir-dzikir akan berpengaruh positif kepada anak dalam kandungan. Lebih baik lagi, jika ibu turut menyertakan anaknya dalam melakukan ibadah, atau saat akan berdzikir. Misalnya, ketika hendak melakukan shalat Maghrib, ibu berkata, “Hai Nak, mari kita shalat!” Sembari ibu menepuk atau mengusap-usap perutnya. Atau ibu mengatakan, “Mari Nak, kita berdzikir… Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim..!”
Ketiga, metode membaca atau menghafal. Yakni ibu membacakan buku, atau membaca Al-Quran dengan suara keras kepada anak. Demikian juga dengan menghafal Al-Quran, ibu menepuk atau mengusap-usap perutnya, sembari mengatakan, “Mari Nak, kita hafalkan surat An-Naba’! ‘Amma yatasa’alun…”
Keempat, metode dialog. Yakni metode interaktif antara anak dalam kandungan dan orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah, saudara-saudara bayi, atau keluarga lainnya. Dengan metode ini, diharapkan seluruh unsur anggota keluarga dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi, yakni menjalin dan mengajak berkomunikasi secara dialogis dengan anak dalam kandungannya.
Mengajak dialog janin dalam perut, menyambutnya dengan sapaan ramah tatkala si anak menendang-nendang perut ibunya atau bergerak-gerak, sembari ibu menepuk atau mengusap-usap lembut pada bagian perut yang bergerak-gerak itu, dan mengatakan, “Ada apa Nak? Ayo bermain-main dengan ibu…!” Hal ini sangat positif sekali untuk merangsang kemampuan komunikasi dan emosional anak.
Wahai para ibu…! Jadilah Anda guru bagi anak-anak Anda, sejak mereka masih dalam rahim Anda. Sehingga, potensi keshalihan dan kecerdasan anak Anda akan mulai bersemi sejak ia belum terlahir di dunia ini. Wallahul musta’an. (Muhammad Albani)

Bagi para orang tua, terutama ibu, menunggu detik-detik kelahiran sang bayi merupakan momen yang sangat mendebarkan. Campur-baur perasaan antara bahagia, cemas dan harapan agar bisa melahirkan dengan selamat, menjadikan saat-saat itu begitu mengesankan. Bagi seorang ibu muslimah, di samping usaha-usaha lahiriah, doa kepasrahan kepada Allah Ta’ala dan selalu memohon pertolongan-Nya menjadi hiasan hati yang tak pernah ‘mati’, menjadi senjata ampuh yang tak pernah rapuh.

Perbanyak Dzikir dan Doa
Ukhti muslimah, ada sebuah buku menarik yang membahas tentang doa dan dzikir bagi ibu hamil, yang sangat penting untuk Anda miliki. Yakni yang ditulis oleh Naurah binti Abdurrahman dengan judul Al-Ifadah fi Ma Ja’a fi Wirdil Wiladah, dan diapresiasi positif oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dalam kata pengantarnya. Edisi terjemahan buku itu telah beredar luas di pasar buku Islam, antara lain diterbitkan Pustaka Arafah, Solo, dengan judul Wirid Ibu Hamil.
Di antara doa yang bisa diamalkan oleh para ibu hamil adalah :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Terus Mengurusi Makhluk, dengan rahmat-Mu, aku memohon pertolongan.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani di dalam Shahihut Targhib, I : 278, 657)
Dianjurkan juga untuk memperbanyak doa :

بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وَ إِنْ تَشَأْ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلاً

Bismillah (dengan nama Allah) -dibaca tiga kali-. Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa-apa yang Engkau menjadikannya mudah; dan jika Engkau menghendaki, Engkau mampu menjadikan kesulitan menjadi mudah.” (HR. Ibnu Hibban, dan Syu’aib Al-Arnauth mengatakan, “Isnadnya shahih”)
Serta dzikir-dzikir dan doa-doa mu’awwidzat lainnya yang hendaknya dibaca para ibu untuk memohon keselamatan dan kemudahan dalam menjalani proses melahirkan. Wallahul musta’an.

Sunnah Nabi Saat Lahir Sang Bayi
Ukhti muslimah, begitu si mungil lahir, iringilah kelahiran anak Anda dengan seperangkat tuntunan dari sunnah Nabi n tatkala menyambut kelahiran sang bayi. Hal itu dilakukan sebagai langkah awal untuk mendidik anak-anak kita berdasarkan petunjuk Nabi n. Dan, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Di antara sunnah Nabi dalam pengasuhan bayi adalah sebagai berikut :
Pertama, mentahnik bayi. Tahnik maksudnya adalah mengunyah buah kurma dan menggosokkannya di langit-langit mulut bayi. Juga, meletakkannya di bagian mulut bayi, kemudian menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang halus, sehingga seluruh bagian mulut bayi terolesi dengan kurma yang telah dikunyah itu. Jika kurma sulit didapatkan, maka tahnik bisa dilakukan dengan bahan apa saja yang manis (misalnya madu), sebagai realisasi terhadap ajaran sunnah dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah n.
Telah diriwayatkan hadits Abu Burdah, dari Abu Musa a, ia berkata, “Telah lahir anakku, dan aku membawanya mendatangi Nabi n, maka beliau menamainya Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma. –Bukhari menambahkan– Dan beliau mendoakannya dengan keberkahan dan menyerahkannya kembali kepadaku. Dia adalah anak Abu Musa yang paling besar.” (Muttafaq ‘alaih)
Kedua, mencukur rambut kepala bayi. Nabi n bersabda, “Laksanakan aqiqah untuk anak, maka tumpahkanlah darah karenanya dan hilangkanlah penyakit darinya.” (HR. Bukhari). Yang dimaksud menghilangkan penyakit dalam hadits tersebut adalah mencukur rambut kepala bayi. Malik meriwayatkan di dalam Al-Muwaththa’ dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata, “Fathimah x menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, kemudian ia bershadaqah dengan perak seberat timbangan rambut itu.”
Di samping bersedekah atasnya, sesudah mencukur rambut bayi, disunnahkan untuk mengusap kepala bayi dengan wewangian. Buraidah a berkata, “Di masa jahiliyah jika lahir salah seorang anak kami, kami menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing tersebut. Ketika telah datang Islam, (jika anak kami lahir) kami menyembelih kambing dan mencukur rambut bayi, serta melumuri kepalanya dengan minyak za‘faran.” (HR. Abu Dawud)
Ketiga, melaksanakan aqiqah. Hal ini merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Untuk itu, Imam Ahmad merasa senang kepada seseorang yang berhutang (karena tidak mampu), agar dapat melaksanakan aqiqah. Ia berkata, “Dia telah menghidupkan sunnah, dan saya berharap semoga Allah akan memberi ganti atasnya.”
Aqiqah adalah menyembelih kambing disebabkan kelahiran bayi, dan dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Untuk anak laki-laki disembelihkan dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing. Nabi n bersabda, “Semua anak digadaikan dengan aqiqahnya, maka hendaklah disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh dan ia diberi nama.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)
Keempat, memberi nama anak yang baik. Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih, dari Abu Darda’, ia berkata : Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan menggunakan nama-nama kalian dan dengan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian.”
Kelima, melaksanakan khitan. Telah diriwayatkan banyak hadits tentang khitan, antara lain hadits Abu Hurairah a, ia berkata : Rasulullah a bersabda, “Kesucian itu ada lima, yakni khitan, mencukur rambut di sekitar kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun waktu pelaksanaan khitan, menurut Ibnul Mundzir, tidak ada dalil yang menetapkan kepastian pelaksanaannya. Sehingga, khitan bisa dilaksanakan kapan saja disesuaikan dengan kondisi anak dan orang tua. Namun, lebih utama bagi orang tua untuk melaksanakan khitan di hari-hari awal dari kelahiran anak.
Keenam, memohonkan perlindungan untuk anak. Nabi n pernah memohonkan perlindungan bagi Hasan dan Husain dengan berdoa :

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَ هَامَّةٍ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, binatang yang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang jahat.” (HR. Bukhari)
Ketujuh, menyusui bayi sampai dua tahun, dan kemudian menyapihnya. Allah Ta’ala berfirman, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf…” (Al-Baqarah [2] : 233)
Ukhti muslimah, semoga si mungil yang menggemaskan itu tumbuh berkembang menjadi anak shalih-shalihah dalam belaian pengasuhan Anda, dengan menjadikan sunnah Nabi sebagai rambu-rambu pengasuhan sang bayi. Wallahu a’lam. (Muhammad Albani)

Mengikat Berkah Al-Quran

Tulisan ini akan mengajak Anda, para muslimah, untuk mengikat salah satu hikmah Ramadhan, sebagai persiapan hati untuk perbaikan diri pasca Ramadhan. Sebulan penuh ibadah dan ketaatan yang kita lazimi selama Ramadhan semestinya mampu menjadi energi ruhiyah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat kepada-Nya. Kita semua tentunya tak ingin menjadi ‘penyembah Ramadhan’ yang gegap-gempita memburu pahala di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan berlalu, ketaatan itu pun berlalu. Hidup kita kembali seperti sebelum Ramadhan. Seakan, kita hanya butuh menyembah Allah di bulan Ramadhan saja, sedangkan di luar Ramadhan hidup kita jauh dari sentuhan lembut hidayah-Nya. Na’udzubillah.

Berakrab-akrab dengan Al-Quran
Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Harus diakui bahwa interaksi kaum muslimin dengan Al-Quran di bulan Ramadhan secara umum mengalami peningkatan. Frekuensi dan durasi membaca Al-Quran selama Ramadhan pun semakin bertambah. Dan, ini sangat positif sekali. Walau selanjutnya, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri; bisakah kedekatan dengan Al-Quran yang telah terbina selama Ramadhan itu terus mengkristal di luar Ramadhan? Bisakah Al-Quran ini menjadi pelita rumah tangga yang tak pernah padam setelah Ramadhan tenggelam?
Sebagai kilas balik untuk muhasabah ke depan, tak ada salahnya jika kita menyimak kedekatan interaksi para salaf dengan Al-Quran di bulan Ramadhan. Kedekatan interaksi inilah yang harus ‘diikat’ secara kuat, agar di luar Ramadhan kita tetap mampu menjadikan Al-Quran sebagai kawan akrab.
Selama bulan Ramadhan, Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Quran sebanyak enam puluh kali, dalam sehari dua kali khatam; siang hari sekali dan malam hari sekali. Berkenaan dengan hadits, “Bahwasanya Rasulullah n melarang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari” (HR. Ahmad), Ibnu Rajab berkomentar, “Pada tempat dan waktu yang utama, diperbolehkan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari. Tindakan ini banyak diriwayatkan dari generasi salaf dan para sahabat.” Dan, bulan Ramadhan merupakan waktu yang utama untuk memperbanyak amaliyah ibadah.
Al-Aswad mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan setiap dua malam, sedangkan di luar bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap enam hari. Qatadah mengkhatamkan Al-Quran setiap tujuh malam. Apabila bulan Ramadhan tiba, ia mengkhatamkannya setiap tiga malam sekali. Khusus pada sepuluh hari terakhir, ia mengkhatamkannya setiap malam.
An-Nawawi bertutur, “Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa pada bulan Ramadhan, Imam Mujahid v mengkhatamkan Al-Quran pada waktu antara shalat Maghrib dan Isyak. Pada waktu itu, mereka mengakhirkan pelaksanaan shalat Isyak sampai malam berlalu hingga seperempatnya.”
Ibnu Al-Hakam berkata, “Pada bulan Ramadhan, Imam Malik meninggalkan pembacaan hadits dan majelis ilmu. Adapun Sufyan Ats-Tsauri, pada bulan Ramadhan beliau meninggalkan semua ibadah tambahan dan berkonsentrasi untuk membaca Al-Quran.”
Abu Hasan Muhammad bin Ali, teman Junaid, berkata, “Saya menyertai Abu Abbas bin Atha’ selama beberapa tahun dengan meneladani sopan santunnya. Setiap harinya ia mengkhatamkan Al-Quran, sedang pada bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al-Quran tiga kali dalam sehari semalam.”
Subhanallah. Sebuah teladan gemilang. Selain berakrab-akrab dengan Al-Quran di bulan Ramadhan, para salaf pun sangat intens membaca Al-Quran di luar Ramadhan. Dan, inilah rahasia keteguhan iman mereka dan kekokohan hati mereka. Untuk itu, janganlah Anda stop berkah Al-Quran mengairi kehidupan Anda setelah Ramadhan! Jadikan ‘berakrab-akrab dengan Al-Quran’ sebagai hikmah Ramadhan yang berhasil kita ikat kuat-kuat untuk menjadi simpul pengokoh hidup kita!

Muslimah Menebar Berkah Al-Quran
Di sinilah seorang muslimah bisa memainkan perannya secara baik. Yakni, bagaimana ia mampu ikut serta membenamkan seluruh anggota keluarga kepada kecintaan Al-Quran, dan ikut menghiasi rumah tangga dengan bacaan Al-Quran. Ia bisa bekerja sama dengan suami atau orang tua, agar bacaan Al-Quran menjadi suara terindah yang senantiasa menggema di seluruh sudut rumah. Apalagi pasca Ramadhan ini, hendaklah kedekatan dengan Al-Quran yang telah terdesain selama Ramadhan bisa terus terhunjam di hati semua anggota keluarga. Dan, inilah salah satu hal yang akan mengantarkan keluarga menuju sakinah. Al-Quran merupakan salah satu sumber sakinah dalam keluarga.
Dalam sebuah riwayat disebutkan dari Barra’ bin Azib, bahwa ia menceritakan, “Ada seorang lelaki membaca surat Al-Kahfi. Ia kebetulan membawa seekor kuda yang diikat dengan tali. Tiba-tiba turunlah awan yang menaunginya dan semakin mendekat. Kuda tunggangannya itu berlari menghindarinya. Di pagi harinya, lelaki itu mendatangi Nabi n dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah n bersabda, ‘Itulah yang disebut sakinah, yang turun karena mendengar Al-Quran’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedekatan anak kepada ibu secara naluriah, merupakan kesempatan emas bagi seorang muslimah untuk sering memperdengarkan bacaan Al-Quran dan menancapkan kecintaan Al-Quran kepada anak. Di samping berdampak positif bagi penguatan iman si anak, bacaan Al-Quran juga akan mencerdaskan pikir dan mengasah kemampuan otak anak. Yazid bin Abdul Malik bin Al-Mughirah meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata, “Barangsiapa gemar membaca Al-Quran, otaknya akan terpelihara, meskipun ia berumur dua ratus tahun” (Shifatush Shafwah, II : 133).
Untuk itu, sering memperdengarkan bacaan Al-Quran kepada anak, termasuk kepada bayi yang masih dalam kandungan, akan mencerdaskan hati dan otak si anak. Dan, peran strategis ini bisa dilakukan oleh ibu muslimah di dalam keluarganya. Jika hal ini bisa dilakukan, tentu banyak keberkahan yang akan ditumpahkan Allah Ta’ala kepada keluarga yang senantiasa menyinari hati penghuni rumahnya dengan bacaan Al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Allahummarhamna bil qur’an. (Muhammad Albani)

masjid_kubah_emasSaudaraku muslimah! Alhamdulillah, tahun ini, kita dan Ramadhan kembali berjumpa. Perjumpaan yang membuncahkan rasa bahagia. Bahagia dengan keberkahan yang terpendam dalam Ramadhan. Bahagia dengan bermacam pahala dan ampunan Allah Ta’ala yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang mampu menjadikan puasa Ramadhan sebagai pembersih dosa, energi pembangkit pahala, dan perisai dari jilatan api neraka. Rasulullah n bersabda :

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa merupakan perisai yang digunakan seorang hamba untuk membentengi diri dari neraka.” (HR. Ahmad)

Bahagia dengan Puasa
Dr. Ahmad Farid di dalam bukunya, Thariqus Sa’adah, mencantumkan sebuah pembahasan yang diberi judul La Thariqa lis Sa’adah illa fil Iman wal ‘Ibadah, tiada jalan untuk menggapai bahagia kecuali dengan beriman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Kebahagiaan itu terletak di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Untuk itu, menurut Dr. Ahmad Farid, salah satu faktor penumbuh kebahagiaan adalah shiyam (puasa). Bahagia sejati itu adalah bahagia hati. Dan, hati tak akan teraliri kebahagiaan kecuali dengan kedekatan kepada Dzat Penguasa Kegaiban dan Pengampun Dosa. Bahagia seperti inilah yang akan mengantarkan kita menuju selamat dunia-akhirat, bahagia dunia-akhirat. Kebahagiaan ganda yang menjadi idaman semua manusia.
Ukhti muslimah! Demikianlah seharusnya sikap seorang mukmin. Hatinya merasa lapang dan bahagia di dalam ketaatan kepada-Nya. Sebuah pertanyaan introspektif yang layak kita hunjamkan ke dalam nurani kita, apakah kita telah mampu merasakan kebahagiaan di dalam puasa kita, dan ibadah-ibadah kita lainnya? Ataukah hati kita merasa ‘biasa-biasa’ saja dalam menjalani perintah-Nya itu? Atau bahkan justru hati kita merasa berat dan tidak enjoy dengan puasa, sehingga berharap Ramadhan segera berlalu? Jawabannya ada di dalam hati Anda!

Karakteristik Orang Berpuasa
Ukhti muslimah! Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan di dalam bukunya Mukhalafat Ramadhan mengemukakan beberapa karakteristik manusia dalam menyambut dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Uraian menarik dari Syaikh As-Sadhan ini semoga menjadi sarana muhasabah ramadhaniyyah, untuk meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan. Termasuk kelompok yang manakah kita?
Pertama, kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangannya, hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh-sungguh mengerjakan segala macam bentuk ibadah, seperti puasa, shalat, sedekah, dan lain sebagainya. Ini merupakan kelompok yang terbaik. Ibnu Abbas c menuturkan, “Nabi n adalah orang yang paling berderma. Namun, beliau lebih berderma lagi pada bulan Ramadhan, ketika beliau selalu ditemui Jibril. Setiap malam pada bulan Ramadhan, Jibril menemui beliau hingga akhir bulan. Nabi n membacakan Al-Quran kepadanya. Bila beliau bertemu Jibril, beliau lebih berderma daripada angin yang bertiup.” (HR. Bukhari)
Kedua, kelompok yang sejak bulan Ramadhan datang sampai berlalu, keadaan mereka tetap saja seperti sebelum Ramadhan. Mereka tidak terpengaruh oleh bulan puasa itu, serta tidak bertambah senang atau bersegera dalam hal kebaikan. Kelompok ini adalah orang-orang yang menyia-nyiakan keuntungan besar yang nilainya tidak bisa diukur dengan apa pun. Sebab, seorang muslim itu akan bertambah semangatnya di waktu-waktu yang banyak terdapat kebaikan dan pahala di dalamnya.
Ketiga, kelompok yang tidak mengenal Allah, kecuali pada bulan Ramadhan saja. Bila bulan Ramadhan datang, Anda dapat melihat mereka ikut rukuk dan sujud dalam shalat. Tetapi, bila Ramadhan berakhir, mereka kembali berbuat maksiat seperti semula. Mereka adalah kaum yang pernah diadukan kepada Imam Ahmad dan Fudhail bin Iyadh, dan keduanya berkata, “Mereka adalah seburuk-buruk kaum, karena mereka tidak mengenal Allah, kecuali pada bulan Ramadhan saja.” Orang seperti ini hakikatnya telah menipu dirinya sendiri dengan perbuatannya itu. Setan pun memperoleh keuntungan yang besar darinya. Allah Ta’ala berfirman, “Setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad [47] : 25)
Keempat, kelompok yang hanya perutnya saja yang ber¬puasa dari segala macam makanan, namun tidak menahan diri dari selain itu. Anda akan melihatnya sebagai orang yang paling tidak berselera terhadap makanan dan minuman. Namun, mereka tak pernah merasa gerah ketika mendengar kemunkaran, ghibah, adu domba, dan penghinaan. Bahkan, itulah kebiasaannya di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Orang seperti ini perlu disadarkan bahwa kemaksiatan di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya itu diharamkan, namun lebih diharamkan lagi di bulan Ra¬adhan, menurut pendapat sebagian ulama. Dengan kemaksiatan itu berarti mereka telah menodai puasa dan menyia-nyiakan pahala yang banyak. Rasulullah n bersabda, “Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah meninggalkan perbuatan sia-sia dan perkataan keji.” (HR. Ibnu Hibban)
Kelima, kelompok yang menjadikan siang hari bulan Ramadhan untuk tidur, sedangkan malam harinya untuk begadang dan main-main belaka. Mereka tidak memanfaatkan siangnya untuk berdzikir dan berbuat kebaikan, tidak pula membersihkan malamnya dari hal-hal yang diharamkan. Orang-orang seperti ini perlu dinasihati agar mereka takut kepada Allah. Janganlah menyia-nyiakan kebaikan yang datang kepada mereka. Mereka telah hidup sejahtera dan makmur. Hendaklah mereka bertaubat kepada Allah, dan bergembira dengan pahala Allah.
Keenam, kelompok yang tidak mengenal Allah di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan lainnya. Mereka adalah kelompok yang paling buruk dan berbahaya. Anda akan melihat mereka tidak memperhatikan shalat atau puasa. Mereka meninggalkan kewajiban itu secara sengaja, padahal kondisinya sehat dan segar bugar. Setelah itu mereka mengaku sebagai orang Islam. Padahal, Islam sangat jauh dari mereka, bagaikan jauhnya barat dan timur. Orang-orang semacam ini perlu diberi peringatan agar mereka segera bertaubat dan kembali kepada agama mereka. Lipatlah lembaran hitam hidup kalian! Dan, gantilah dengan lembaran ketaatan dan ibadah kepada-Nya!

***

Ukhti muslimah! Semoga kita termasuk orang yang bahagia menyambut Ramadhan, bahagia mengisi Ramadhan dengan berbagai amal ketaatan, bahagia menyongsong pahala dan ampunan Allah yang bertaburan di bulan Ramadhan. ‘Menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan sahur bagi keluarga’ bisa menjadi rutinitas muslimah di bulan Ramadhan yang memiliki pahala berlimpah. Wallahu a’lam. (Muhammad Albani)

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.