Tulisan ini akan mengajak Anda, para muslimah, untuk mengikat salah satu hikmah Ramadhan, sebagai persiapan hati untuk perbaikan diri pasca Ramadhan. Sebulan penuh ibadah dan ketaatan yang kita lazimi selama Ramadhan semestinya mampu menjadi energi ruhiyah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat kepada-Nya. Kita semua tentunya tak ingin menjadi ‘penyembah Ramadhan’ yang gegap-gempita memburu pahala di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan berlalu, ketaatan itu pun berlalu. Hidup kita kembali seperti sebelum Ramadhan. Seakan, kita hanya butuh menyembah Allah di bulan Ramadhan saja, sedangkan di luar Ramadhan hidup kita jauh dari sentuhan lembut hidayah-Nya. Na’udzubillah.
Berakrab-akrab dengan Al-Quran
Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Harus diakui bahwa interaksi kaum muslimin dengan Al-Quran di bulan Ramadhan secara umum mengalami peningkatan. Frekuensi dan durasi membaca Al-Quran selama Ramadhan pun semakin bertambah. Dan, ini sangat positif sekali. Walau selanjutnya, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri; bisakah kedekatan dengan Al-Quran yang telah terbina selama Ramadhan itu terus mengkristal di luar Ramadhan? Bisakah Al-Quran ini menjadi pelita rumah tangga yang tak pernah padam setelah Ramadhan tenggelam?
Sebagai kilas balik untuk muhasabah ke depan, tak ada salahnya jika kita menyimak kedekatan interaksi para salaf dengan Al-Quran di bulan Ramadhan. Kedekatan interaksi inilah yang harus ‘diikat’ secara kuat, agar di luar Ramadhan kita tetap mampu menjadikan Al-Quran sebagai kawan akrab.
Selama bulan Ramadhan, Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Quran sebanyak enam puluh kali, dalam sehari dua kali khatam; siang hari sekali dan malam hari sekali. Berkenaan dengan hadits, “Bahwasanya Rasulullah n melarang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari” (HR. Ahmad), Ibnu Rajab berkomentar, “Pada tempat dan waktu yang utama, diperbolehkan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari. Tindakan ini banyak diriwayatkan dari generasi salaf dan para sahabat.” Dan, bulan Ramadhan merupakan waktu yang utama untuk memperbanyak amaliyah ibadah.
Al-Aswad mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan setiap dua malam, sedangkan di luar bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap enam hari. Qatadah mengkhatamkan Al-Quran setiap tujuh malam. Apabila bulan Ramadhan tiba, ia mengkhatamkannya setiap tiga malam sekali. Khusus pada sepuluh hari terakhir, ia mengkhatamkannya setiap malam.
An-Nawawi bertutur, “Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa pada bulan Ramadhan, Imam Mujahid v mengkhatamkan Al-Quran pada waktu antara shalat Maghrib dan Isyak. Pada waktu itu, mereka mengakhirkan pelaksanaan shalat Isyak sampai malam berlalu hingga seperempatnya.”
Ibnu Al-Hakam berkata, “Pada bulan Ramadhan, Imam Malik meninggalkan pembacaan hadits dan majelis ilmu. Adapun Sufyan Ats-Tsauri, pada bulan Ramadhan beliau meninggalkan semua ibadah tambahan dan berkonsentrasi untuk membaca Al-Quran.”
Abu Hasan Muhammad bin Ali, teman Junaid, berkata, “Saya menyertai Abu Abbas bin Atha’ selama beberapa tahun dengan meneladani sopan santunnya. Setiap harinya ia mengkhatamkan Al-Quran, sedang pada bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al-Quran tiga kali dalam sehari semalam.”
Subhanallah. Sebuah teladan gemilang. Selain berakrab-akrab dengan Al-Quran di bulan Ramadhan, para salaf pun sangat intens membaca Al-Quran di luar Ramadhan. Dan, inilah rahasia keteguhan iman mereka dan kekokohan hati mereka. Untuk itu, janganlah Anda stop berkah Al-Quran mengairi kehidupan Anda setelah Ramadhan! Jadikan ‘berakrab-akrab dengan Al-Quran’ sebagai hikmah Ramadhan yang berhasil kita ikat kuat-kuat untuk menjadi simpul pengokoh hidup kita!
Muslimah Menebar Berkah Al-Quran
Di sinilah seorang muslimah bisa memainkan perannya secara baik. Yakni, bagaimana ia mampu ikut serta membenamkan seluruh anggota keluarga kepada kecintaan Al-Quran, dan ikut menghiasi rumah tangga dengan bacaan Al-Quran. Ia bisa bekerja sama dengan suami atau orang tua, agar bacaan Al-Quran menjadi suara terindah yang senantiasa menggema di seluruh sudut rumah. Apalagi pasca Ramadhan ini, hendaklah kedekatan dengan Al-Quran yang telah terdesain selama Ramadhan bisa terus terhunjam di hati semua anggota keluarga. Dan, inilah salah satu hal yang akan mengantarkan keluarga menuju sakinah. Al-Quran merupakan salah satu sumber sakinah dalam keluarga.
Dalam sebuah riwayat disebutkan dari Barra’ bin Azib, bahwa ia menceritakan, “Ada seorang lelaki membaca surat Al-Kahfi. Ia kebetulan membawa seekor kuda yang diikat dengan tali. Tiba-tiba turunlah awan yang menaunginya dan semakin mendekat. Kuda tunggangannya itu berlari menghindarinya. Di pagi harinya, lelaki itu mendatangi Nabi n dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah n bersabda, ‘Itulah yang disebut sakinah, yang turun karena mendengar Al-Quran’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedekatan anak kepada ibu secara naluriah, merupakan kesempatan emas bagi seorang muslimah untuk sering memperdengarkan bacaan Al-Quran dan menancapkan kecintaan Al-Quran kepada anak. Di samping berdampak positif bagi penguatan iman si anak, bacaan Al-Quran juga akan mencerdaskan pikir dan mengasah kemampuan otak anak. Yazid bin Abdul Malik bin Al-Mughirah meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata, “Barangsiapa gemar membaca Al-Quran, otaknya akan terpelihara, meskipun ia berumur dua ratus tahun” (Shifatush Shafwah, II : 133).
Untuk itu, sering memperdengarkan bacaan Al-Quran kepada anak, termasuk kepada bayi yang masih dalam kandungan, akan mencerdaskan hati dan otak si anak. Dan, peran strategis ini bisa dilakukan oleh ibu muslimah di dalam keluarganya. Jika hal ini bisa dilakukan, tentu banyak keberkahan yang akan ditumpahkan Allah Ta’ala kepada keluarga yang senantiasa menyinari hati penghuni rumahnya dengan bacaan Al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Allahummarhamna bil qur’an. (Muhammad Albani)